Jumat, 05 Februari 2010

Siaran Langsung

Beberapa waktu yang lalu, perdebatan tentang siaran langsung dari media elektronik menjadi perdebatan hangat. Sempat hampir mengalahkan berita pansus. Untunglah berita pansus yang menang.
Waktu itu saya belum memberikan pendapat, karena saya lebih banyak mendengar dan merenungkan mana yang terbaik? Sesudah perdebatan itu terhenti, waktunya saya menyampaikan pendapat hasil perenungan. Ada tiga hal yang berdampak negatif dari pemberitaan langsung suatu persidangan apalagi perkara pidana.

1. KUHAP mengatur saksi yang belum diperiksa tetapi akan memberi kesaksian, tidak boleh mengetahui hasil pemeriksaan saksi sebelumnya. Kalau disiarkan langsung, berarti kesaksiannya dapat terpengaruh atas pemberitaan langsung.
2. Bila ada nama baru disebutkan terdakwa atau saksi di persidangan yang sebelumnya belum dikemukakan, nama itu mempunyai kesempatan menghindar atau memperbaiki jawaban.
3. Kalau ada ungkapan yang terlontar spontan yang tidak layak didengar publik seperti yang dibacakan JPU Cyrus Sinaga dalam kasus terdakwa mantan Ketua KPK.
4. Bila siaran langsung diikuti dengan penggalangan opini, Hakim dapat terpengaruh.
Keempat butir di atas tentu akan bermuara kepada keputusan Pengadilan yang tidak objektif dan tidak adil. Mari kita bersama mencari jalan keluarnya, hak memperoleh informasi terpenuhi, tetapi peradilan yang adil dan objektif juga tercapai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar