Selasa, 16 Februari 2010

WELFARESTATE LAPANGAN KERJA

Di negara yang menganut faham sistem welfarestate, negara bertanggungjawab menciptakan lapangan kerja. Bila pemerintah tidak sanggup alias ada pengangguran, maka pemerintah membayar tunjangan sosial pengangguran 60-80% dari kebutuhan hidup layak. Tunjangan itu dimasukkan dalam APBN atau jaminan sosial (seperti jamsostek) bagi yang diphk karena bangkrut.

Hasilnya apa? pemerintah mengerjakan tugas utamanya menciptakan lapangan kerja. Karena kalau banyak pengangguran, APBN akan disedot membayar gaji pengangguran. Akibatnya pemerintah putar otak menciptakan lapangan kerja. Selain itu, kalau penganggur jumlahnya banyak bukan karena krisis, pemerintahnya dimakzulkan, disuruh mundur atau dimundurkan.
Pada sisi penganggurpun sangat positif. Seseorang walaupun sedang menganggur, dia dapat menikmati mutu kehidupan yang minimal. Tinggal di rumah sehat, dapat makan daging dan menyekolahkan anak. Di negara welfarestate, walaupun menganggur, dia masih hidup sebagai manusia.

Sebaliknya di negara neoliberalisme seperti kita sekarang. Mencari kerja/mendapatkan pekerjaan adalah kewajiban individu. Kalau sedang menganggur dan miskin sekali, mutu hidup anjing(maaf) peliharaan lebih berharga dari manusia penganggur. Lihat penganggur yang tidur di emperan.

Yang saya herankan adalah, banyak juga rakyat miskin pengagum dan pemilih neoliberalisme. Akibatnya, Indonesia terkaya alamnya di dunia, akan tetapi rakyat Indonesia paling miskin di dunia. Mudah2an wacana ini membuka wawasan pembaca khususnya kaum muda. Ke depan pilihannya mudah. Mau terus menderita? pilih neoliberalisme. Mau sejahtera? perjuangkan welfarestate.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar