Rabu, 28 Juli 2010

MAKALAH PRIBADI MUCHTAR PAKPAHAN

MAKALAH PRIBADI

A. TENTANG DIRI SENDIRI

Saya lahir tanggal 21 Desember 1953, di desa Bahjambi, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, dari keluarga petani. Ayah saya, Sutan Johan Pakpahan, buruh di perkebunan Negara Bahjambi, meninggal Nopember 1965 sewaktu saya masih duduk di Kelas VI Sekolah Rakyat (sekarang Sekolah Dasar), dan ibu saya Victoria Silalahi, meninggal April 1973.

Setelah SMP saya menganggur satu tahun. Didorong keinginan yang kuat untuk bersekolah, tanpa restu ibu yang melahirkan, saya pergi merantau ke Medan, menjadi penarik becak, kemudian menjadi siswa SMA Negeri 5 Medan. Penghasilan menarik becak menjadi sumber utama membiaya kebutuhan SMA. Waktu memasuki kelas II, ekonomi abang saya, Budianto Batusonang Pakpahan yang tinggal di Tanjung Balai Karimun mengalami perbaikan, sehingga ia menyuruh saya berhenti narik becak dan konsentrasi sekolah. Memasuki tahun kedua di SMA 5, saya ikut kursus mata pelajaran IPA kelas III dengan guru-guru kelas III. Matapelajaran yang saya ikuti adalah: Fisika, Kimia, Biologi, Matematika (aljabar, ilmu ukur sudut, ilmu ukur analitik) dan Bahasa Inggris. Pada ahir tahun ajaran, saya ikuti ujian kelas III di SMA Negeri VI Medan, dan lulus. Abang saya Budianto menyetujui saya meneruskan studi ke Fakultas Kedokteran. Saya ikut testing di Fakultas Kedokteran USU Medan, tidak lulus. Kemudian saya mendaftar dan ikut testing ke Fakultas Kedokteran Universitas Methodist Indonesia (UMI), dinyatakan lulus, jadilah saya mahasiswa Fakultas kedokteran UMI angkatan tahun 1973.

Pada Januari 1974 terjadi demonstrasi mahasiswa seluruh Indonesia yang digerakkan Hariman Siregar dari UI dan Muslim Tampubolon dari ITB yang dikenal dengan peristiwa Malari (malapetaka 15 Januari). Peristiwa ini sangat mempengaruhi jalan pikiran saya dan ternyata menentukan perjalanan hidup saya hingga sekarang ini. Sebab dengan pidato-pidato yang diutarakan Hariman dan Muslim, hati saya tergerak ingin ikut menegakkan keadilan dan menegakkan hukum. Penguasaan kekayaan alam dan ekonomi Indonesia oleh kapitalisme yang didukung kebijakan pemerintah dengan melakukan pelanggaran HAM membuat saya ikut demonstrasi dan kemudian menjadi aktivis hingga sekarang. Dalam rangkaian demonstrasi itu, saya mendaftarkan diri ikut testing di Fakultas Hukum USU untuk tahun akademi 1974 dan ternyata lulus. Sejak tahun akademi 1974 saya kuliah di dua fakultas yakni tkt II kedokteran UMI dan tkt I hukum USU.

Menjadi D(okte)r Muchtar Pakpahan,SH adalah sebuah cita-cita, tetapi Tuhan menentukan lain. Agustus 1976, waktu itu saya sudah tingkat IV di fakultas Kedokteran dan tingkat II di fakultas Hukum, saya kecelakaan lalulintas, tulang kaki kanan saya patah, yang kemudian Nopember tahun yang sama, abang saya, Budianto meninggal karena sakit. Sayapun sempat putus asa, berusaha bunuh diri, tapi dicegah teman baik saya Almaden Lubis. Teman saya Almaden ini mengutarakan hal saya ini kepada Dekan Fakultas Hukum USU Bapak Amru Daulay, SH, oleh beliau saya dibantu pengobatan dan bebas uang kuliah/SPP.

Untuk membiayai kehidupan sehari-hari, sejak 1977 saya kembali menekuni pekerjaan menarik becak yang sempat terhenti tahun 1972. Pekerjaan menarik becak, sekalian kuliah dan ikut aktif di kegiatan kemahasiswaan saya tekuni hingga tahun 1978 saat saya tamat menjadi Sarjana Muda Hukum (Sm.H). Dengan keimanan berkat Tuhan saya jadi Sm.H dikaitkan dengan perjalanan hidup seperti itu, waktu saya dinyatakan lulus ujian Sm.H, saya tidak mempunyai uang mentraktir, lalu saya ke kamar kost, tersungkur berdoa, dan terucap nazar : sebagai tanda terimakasih saya kepada Tuhan, saya berjanji membela orang miskin darimana saya berasal, menegakkan hukum, dan kelak menikah punya anak laki-laki sulung akan dituntun jadi pendeta. Inilah yang mengantar saya membuka Kantor Pengacara di Jalan Sutomo Medan akhir tahun 1978, dengan bekal Sarjana Muda Hukum.

Sejak awal, kantor Pengacara saya banyak menangani kasus buruh. Tantangan yang berat, tidak dapat honor tetapi mendapat ancaman dibunuh dan dituduh komunis. ABRI/Polri, Departemen Tenaga Kerja dan Ka.Kanwil Tenaga Kerja memihak pengusaha. Pemihakan ini berlatar korupsi, suap dan gratifikasi. Itu sebabnya basis utama saya sebagai aktivis buruh adalah penegakan hukum (rule of law) dan di dalamnya memberantas korupsi. Selama aktif membela buruh itu, saya sering bertemu minta nasihat dan dikuatkan oleh Prof. Ny. Any Abbas Manoppo dan Jenderal (purn) TB. Simatupang. Selain mereka, mentor saya yang lain adalah ibu dan abang saya, Borotan Pakpahan, serta Presiden Soekarno. Ibu saya memberi bekal bekerja dengan tulus dan jujur, abang saya memberi bekal tanggung jawab, Soekarno memberi bekal nasionalisme/patriotisme, TB. Simatupang memberi bekal berani berkata benar, ya atas yang ya, dan Prof. Ny. Any Abbas Manoppo memberi bekal berani memikul resiko menegakkan hukum.

Suatu kali pengusaha PT. Korek Api Deli (PT. KAD) meminta saya membela perusahaan memecat buruh yang juga pengurus FBSI dengan honor yang amat banyak, namun pada saat yang sama buruh yang dipecat juga minta dibela. Saya memilih membela buruh dan tanpa honor karena keyakinan saya. Kasus seperti ini adalah contoh dari bermacam kasus lain yang sering saya hadapi. Saya selalu berpihak kepada kebenaran dan orang miskin.

Yang mau saya tunjukkan melalui cerita di atas adalah karakter saya yaitu : berani (membela yang benar), komit (membela yang benar dan orang miskin), konsekuen berjuang (dengan segala resiko), dan tulus (terhindar dari motivasi harta, tahta dan perempuan, selain isteri yang satu orang). Yang menjadi kebahagiaan dan motto hidup saya adalah apabila hidup saya berguna bagi orang yang membutuhkan.

B. MOTIVASI MEMIMPIN KPK

Yang menjadi motivasi saya memimpin KPK adalah visi saya tentang Negara dan rakyat, dan kenyataan rakyat Indonesia saat ini.

Visi saya sejak Sm.H bercita-cita mewujudkan tiga hal : 1.Negara Welfarestate (sebagaimana cita-cita Soekarno dan dituangkan dalam Pembukaan UUD 1945 dan Batang Tubuh pasal 27, 28, 29, 31, 34); 2. Good Governance (pemerintahan yang bersih dan berwibawa) berarti hukum ditegakkan,korupsi diberantas, pemerintahan demokrasi dijalankan, keadilan sosial diwujudkan, HAM dilindungi dan antidiskriminasi diterapkan; 3. Masyarakat madani dikuatkan melalui kuatnya serikat buruh (Strong union people welfare) (Ide dan pemaparan saya bisa dilihat di http://www.muchtarpakpahan.com ). Apabila tiga hal ini diwujudkan, rakyat Indonesia akan menikmati kehidupan yang makmur dan sejahtera.

Kenyataan rakyat Indonesia saat ini, berpenduduk 238 juta, di mana 60 juta berada di bawah garis kemiskinan (yang miskin itu umumnya buta huruf); sementara Indonesia memiliki alam yang kaya. Menurut konferensi Asia Pasifik di Kyoto 1995, 65% kekayaan alam Asia Pasifik berada di Nusantara; namun mengapa rakyatnya miskin? Karena Indonesia terkorup di dunia dan birokrasinya terburuk di dunia (saya ciptakan lagu KORUPSI).

(a) Syarat Mewujudkan Rakyat Sejahtera

Rakyat tidak akan pernah menikmati kesejahteraan dan kemakmuran bila penegakan hukum tidak jalan; bila korupsi,kolusi dan nepotisme masih menguasai pemerintahan dan birokrasi Indonesia.

(b) Komitmen Perjuangan

Komitmen saya selama menjadi pengacara adalah menegakkan hukum dan memberantas korupsi (kolusi dan nepotisme) yang karena komitmen itu saya berulangkali ditangkap/ditahan dan dipenjarakan oleh pemerintah Indonesia yang korup dan melanggar HAM. Saya telah memperjuangkan komitmen melalui tiga media: (1) Intelektual, yaitu: menulis buku/makalah, mengoperasikan website dan facebook, dan pembicara di berbagai event; (2) Aktivitas organisasi, yaitu melalui LSM (KSPPM, FAS), KSBSI dan Partai Buruh. Karena aktivitas itu saya dipenjarakan dua kali; dan (3) Seni, melalui bidang ini saya menciptakan, mengarrange musik, dan menyanyikan lagu-lagu perlawanan terhadap kesewenang-wenangan dan korupsi serta lagu-lagu kritik sosial penegakan hukum. Sekarang kami sedang membuat video klip album ketiga bersama Flamingo band.

Karena visi saya yang demikian mengenai masyarakat Indonesia, dan mimpi saya untuk mengentaskan kemiskinan, maka saya melihat korupsi adalah akar masalah karena itu korupsi harus ditangani secara serius. Saya terpanggil ingin memberantas korupsi, karena dengan menurunnya tingkat korupsi kita bisa memiliki pemerintahan dan birokrasi yang membaik. Kalau saya diberi kepercayaan, saya berani membuat target, mengangkat Indonesia dari Negara terkorup peringkat 180-an menjadi peringkat 50-60.

C. KESIAPAN MENTAL, MATERIAL DAN SPRITUAL

Setelah mendengar pengumuman di media bahwa Panitia Seleksi KPK sedang mencari seorang Ketua KPK, kawan-kawan dan keluarga mendorong saya untuk ikut melamar menjadi ketua KPK. Setelah mempertimbangkan suara masyarakat yang mengatakan membutuhkan pimpinan KPK yang berani, komit, konsekuen dan bersih, saya memutuskan ikut melamar menjadi Ketua KPK. Ada beberapa hal pokok yang membuat saya siap untuk melaksanakan tugas ini.

1. Menilik pengetahuan dan kemampuan, dengan bekal pendidikan S3 ilmu hukum ditambah pengalaman 32 tahun sebagai praktisi advokat, pembela HAM buruh dan akademisi/dosen sejak thn 1981, dari sudut ilmu pengetahuan dan pengalaman saya siap memimpin KPK.

2. Semasa Orde Baru saya pernah ditawari bermacam hal, misalnya saham untuk tidak membela penduduk; pernah ditawari posisi menteri asal tidak memperjuangkan nasib buruh (di dalamnya penegakan hukum dan memberantas korupsi); usaha adik saya dihancurkan kalau saya tidak menyerah kepada Orde Baru. Karena semua itu tidak berhasil, saya ditangkap beberapa kali dan dua kali dipenjarakan di Medan (1992) dan di Jakarta (1996-1998). Pengalaman itu membuktikan saya berani, saya komit, dan saya konsekuen. Dengan kata lain, saya siap secara mental.

3. Tahun 1994 waktu saya dipenjarakan, kami hanya memiliki rumah kecil di Jl. Kayuputih Selatan VI D No. 9, dan anak saya yang tertua SMP yang termuda SD kelas III. Dalam serba kekurangan saya tidak menyerah. Sekarang saya memiliki rumah di Duren Sawit (senilai Rp. 1 M) kantor milik sendiri di Jln. Tanah Tinggi II no 44b (senilai Rp. 1,3 M) dan usaha studio di Jln. Tanah Tinggi II/25 3 lantai (senilai Rp. 1,9 M). Anak tertua saya adalah pendeta dengan hampir menyelesaikan pendidikan terakhirnya strata 3, anak kedua saya Sarjana Hukum (advokat), dan anak ketiga Ssi. Politik dan bekerja di Jaktv. Secara material saya siap. Perlu saya tekankan bahwa saya bukan pengejar harta, yang pernah terjadi adalah saya menolak harta pemberian karena saya merasa tidak berhak. Intinya, dulu ketika saya berada dalam kekurangan dan di penjara, saya menolak tawaran yang tidak benar dan uang bukan yang utama dalam hidup saya, apalagi dalam hidup saya sekarang ketika semua anak saya sudah mandiri hidupnya. Secara material saya telah siap.

4. Saya orang yang hidup dalam doa dan takut berbuat dosa kepada Tuhan. Saya hanya takut kepada Tuhan dan FirmanNya. Tuhanlah yang menguatkan dan membimbing saya hingga saya bisa menjadi siapa saya sekarang ini. Saya siap secara spiritual.

D. DIANGGAP CACAT DI MASA LALU

Di masa pemerintahan Presiden Megawati dan Jaksa Agung Abdurrahman, saya pernah dijadikan terdakwa korupsi Jamsostek. Waktu itu saya baru terpilih menjadi Ketua Umum DPP Partai Buruh dan ditetapkan calon presiden. Ketika itu saya ikut meminta agar Abdurrahman diperiksa dan diberhentikan dari posisinya sebagai Jaksa Agung untuk memperlancar proses hukum atas dugaan gratifikasi yang diterimanya. Selama proses perkara, saya tidak pernah ditahan; Jaksa sering tidak menghadiri persidangan dengan maksud mengulur-ulur waktu; sehingga Hakim Majelis harus menetapkan surat panggilan menghadirkan Jaksa. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memutuskan saya bebas murni.

E. LEADERSHIP

Pengalaman Kepemimpinan yang saya miliki : 1. Ketua BPC GMKI Medan 1978-1979. 2. Ketua Jurusan HTN pada Fakultas Hukum UKI 1988-1994. 3. Ketua Umum DPP KSBSI (Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia) 1992-2003. 4. Governing Body ILO di Geneva 1999-2005. 5. Vice President of World Confederation of Labour (WCL) di Brussel 2001-2005. 6. Ketua Umum DPP Partai Buruh November 2002-Juni 2009. Dari pengalaman saya memimpin di 6 lembaga tersebut, ada tiga hal penting yang saya lakukan. 1. Proses mengambil keputusan. 2. Proses menjalankan keputusan dan 3. Pengawasan terhadap pelaksanaan keputusan.

Setiap saya hendak mengambil keputusan, saya melibatkan seluruh personel sesuai dengan struktur yang ada hubungannya dengan pengambilan keputusan tersebut. Sedapat mungkin keputusan diambil berdasarkan mufakat tidak berdasarkan pemungutan suara, kecuali tidak dapat dihindari. Saya berusaha tidak ada keputusan singlefighter atau solorun. Setelah menjadi keputusan, saya komit menjalankan dengan segala konsekuensinya, walaupun merugikan diri sendiri. Bila ada yang melakukan penyimpangan/pelanggaran, pemberian sanksi sesuai aturan yang berlaku harus dilakukan walaupun mengenai teman dekat atau keluarga. Keputusan harus dibuat dan dijalankan, dengan tidak pandang bulu. Hal ini beberapa kali mengakibatkan teman-teman saya kemudian kecewa karena menduga bahwa saya akan mengambil keputusan yang meringankan keluarga dan teman, hingga akhirnya mereka mengerti bahwa itu sudah menjadi sifat saya.

Leadership dalam hal proses membuat keputusan, melaksanakan dan mengawasi yang telah saya terapkan selama ini akan saya terapkan di KPK jika saya diberi kesempatan/kepercayaan memimpin KPK. Menyidik/menangkap/menahan siapapun saya tidak akan takut, tidak akan ragu dan tidak akan mundur apabila sudah memenuhi hukum pidana positif. Saya tidak akan pernah takut dan tidak akan pernah bisa disogok dalam memimpin. Dalam hal ini Kim Dae Yung dan Nerlson Mandela menjadi panutan saya. Waktu Nelson Mandela, Presiden Afrika Selatan, ia memenjarakan dan menceraikan isterinya karena melakukan pidana ekonomi. Waktu Kim Dae Yung, Presiden Korea Selatan, ia memenjarakan dua anaknya yang melakukan pidana ekonomi.

F. PERGAULAN KESEHARIAN DI LUAR PEKERJAAN

Ada lima kegiatan yang saya geluti di luar pekerjaan resmi sehari-hari : kemanusiaan, rohani, olahraga tenis, seni musik/suara dan menulis. Kegiatan kemanusiaan yakni menghadiri pernikahan, melayat yang meninggal, membesuk yang sakit, menguatkan yang lemah, membantu yang butuh bantuan, dll. Melakukan kegiatan rohani, rata-rata dua kali seminggu, yaitu Sabtu dan Minggu: kegiatan bergereja, sermon, latihan koor dan mengunjungi yang sakit atau kemalangan. Saya tergabung dalam grup olah raga tenis bersama guru-guru SMA Negeri 45 sejak tahun 2001. Kami mempunyai jadwal main tenis setiap Selasa, Kamis dan Sabtu jam 16.00-18.00 di Lapangan Tenis Balap Sepeda, Rawamangun. Dalam bidang seni musik/suara: saya mempunyai usaha studio musik dan saya menciptakan 32 lagu hingga saat ini. 2 album telah selesai, satu album sedang dalam proses pembuatan videoclip. Album ketiga ini berisi 4 lagu yang bertemakan lawan/perangi korupsi dan dua kritik sosial penegakan hukum. Saya di studio biasanya malam hari pada Senin dan Rabu, kadang-kadang juga Jumat untuk latihan musik, latihan tarik suara dan mengadakan rekaman. Keempat Lagu anti korupsi itu : 1.lawan koruptor, 2. Korupsi, 3.Bersatu lawan korupsi, 4. Waduh bencana. 5. Mars buruh (Di album yang lain). Saya aktif menulis buku, makalah dan mengoperasi blog pribadi saya: http://www.muchtarpakpahan.com dan juga media sosial seperti Facebook. Daftar buku-buku yang pernah saya tulis: 1. Menarik Pelajaran dari Kedung Ombo; 2. Budaya Politik Pemerintahan Desa di Batak Toba; 3. DPR Semasa Orde Baru; 4. Nasib Buruh Indonesia; 5. Perjuangan Politik Buruh; 6. Perjuangan Kebebasan Berserikat Buruh; 7. Potret Negara Indonesia; 8. Ilmu Negara dan Politik; 9. Konflik Kepentingan Outsourcing dan Kontrak dalam UU No. 13 Tahun 2003 (baru terbit); dan sekarang saya sedang merampungkan Buku Undang-undang Perburuhan beserta komentar.

Nama-nama yang berinteraksi dengan saya lebih dari tiga kali di luar hubungan kerja dan keluarga dalam 2 bulan terakhir. (1) Rekson Silaban, Presiden KSBSI; (2) Markus Tiow, Sekjen DPP Partai Buruh; (3) Jens Butarbutar/Flamingoband; (4) Hery, guru SMA Negeri 45/grup tennis; (5) Pdt. PMCH Sinaga, pendeta HKBP Diaspora; (6) Dr. Simatupang, teman gereja dan koor; (7) Dr. Wannen Pakpahan dari satu marga Pakpahan; (8) James Sagala, S.Ak, teman gereja.

G. HADIAH

Seingat saya, tidak ada menerima hadiah dan menolak hadiah dalam lima tahun terahir ini yang harganya mahal. Tetapi hadiah baju batik ada saya terima tiap tahun dari Koperasi KSBSI, setiap tanggal 21 Desember pada hari ulang tahun saya. Beberapa klien juga memberi parsel natal/tahun baru di bawah harga satu juta rupiah.

H. DAFTAR TEMAN-TEMAN DEKAT

Bisa dipertimbangkan untuk membagi daftar teman ini dalam klasifikasi hubungan : kerja, keluarga, spiritual, dan negarawan. Berikut ini adalah daftar nama-nama teman dekat.

- (Keluarga/sehari-hari) : Edward Marpaung; Pdt. Gomar Gultom; Dr. Wannen Pakpahan; dr. P Simatupang; dr. P. Panjaitan; James Sagala SE, AK; Drs. Jourlin Pakpahan; Tamrin Sianipar; Toga Nainggolan; Robert Anton; Hery; Toga Nainggolan.

- Spiritual : KH Abdurrahman Wahid (alm.); Pdt. Saut Sirait; Pdt. Dr. Richard Daulay; KH Salahudin Wahid; Pdt. Nelson Siregar; Pdt. Willem TP Simarmata; Ustadz Ubaidillah; Pdt. Gunartho; Pdt Ramlan Hutahaean; Pdt. Jau Doloksaribu; Pdt. Josef Widiyatmadja; Pdt. Dr. Robert Borong.

- Rekan aktif di perjuangan : Rekson Silaban; Mudhofir; [11] Parulian Sianturi; Nikasih Ginting; Sony Pujisasono; Markus Tiow; Juliana Putri Pawe SH, MH; Amosi Telaumbanua; Riswan Lubis; Togar Marbun; Jens Butarbutar; Jhonson Panjaitan; Anton Reinhard; Mahadi Manik MSc; M.Hasan Basori[12] ; Suparni S.Si; Sulistri; Lius Sungkarisna.

- Internasional/Asing : Willy Thys; Anton Westerlaken; John Sweeney; Pdt. Dr. Arie Brouwer; Dr. Henk Koutzier; Bob White.

- Negarawan : Dr. Todung Mulia Lubis; Dr. Barita Simanjuntak; Prof. Dr. John Pieres; Dr. Ida Laode; Dr. Oka Darmawan; Dr. Bibit Ryanto; HS.Dillon; Hendardi; Frans Hendra Winarta; Dr. Seto Mulyadi; Arist Merdeka Sirait; Dr. Din Syamsudin; Prof.Dr. Amien Rais; Siswono Yudhohusodo; Bambang Tri Wahyono; Faisal Basri; Max Boboy; Letjen Cornel Simbolon; Mayjen Mahidin Simbolon; Deddy Mizwar; Teten Masduki; Bambang Wijayanto; Dr. Mega Maharani; Sabam Sirait; Dr. George Aditjondro; Dr. Adnan Buyung Nasution.

I. ORANG TERDEKAT/KEPERCAYAAN

Bila saya sedang menghadapi kesulitan, orang dekat/kepercayaan yang selalu membantu saya adalah : Rekson Silaban; Sony Pujisasono; M. Hasan Basori; [13] Toga Nainggolan; Tamrin Sianipar, Willy Thys, Budiono, Binsar Pakpahan (putera saya).

J. NILAI BUDAYA/KEBIASAAN YANG KURANG/TIDAK BAIK YANG TIDAK DAPAT DIBAWA UNTUK MEMIMPIN KPK

Saya adalah orang yang menghargai kebudayaan saya yaitu Batak yang dikenal dekat dengan keluarga. Hal ini bisa dilihat sebagai kelemahan dalam kinerja bekerja di KPK, namun saya tidak pernah segan untuk menolak atau bertindak tegas terhadap kesalahan yang dibuat oleh anggota keluarga saya sendiri. Karena itu saya menyimpulkan bahwa nilai Budaya saya tidak akan menghambat kinerja saya apabila saya dipercaya menjadi Ketua KPK nanti.

Saya juga selalu berpikir positif sebelum orang terbukti bersalah, sementara untuk menjadi penegak hukum saya harus menyelidiki kesalahan dan berpikir untuk membuktikan kesalahan orang. Ini mungkin bisa menjadi kelemahan, namun saya sudah merubah ini agar bisa menjadi penyidik yang baik.

K. PENGETAHUAN DAN WAWASAN

- Saya tertarik melakukan pemberantasan korupsi sebagai penegak hukum sejak menjadi aktivis tahun 1974, dan menjadi fokus sejak menjadi pengacara tahun 1978. Sejak itu saya selalu memperluas pengetahuan dan wawasan saya dalam bidang ini.

- Saya banyak membaca buku tentang korupsi dari dalam dan luar negeri yakni : Mochtar Lubis & James Scott, Bunga Rampai Korupsi, 1985; Djoko Prakoso, dkk, Kejahatan-kejahatan yang Merugikan dan Membahayakan Negara, 1986; George Aditjondro, 1. Korupsi penguasa Indonesia, 2. Gurita Cikeas; Bibit Riyanto, Go to Hell Korupsi, 2009; Ardison Muhammad, Serangan Balik Pemberantasan Korupsi, 2009; Wijayanto, Korupsi Mengorupsi Indonesia, 2009; Ahmad Husein, Pemberantasan Korupsi Malaysia; Adam Schwarz, buku terbitan KILTV; dan lainnya. Selain minat, profesi saya juga menuntut saya untuk membaca buku-buku tersebut

- Buku-buku yang biasanya saya baca bertema penegakan hukum, demokrasi, keadilan sosial dan perlindungan HAM, serta buku spiritualitas. Saya juga suka membaca buku humor/anekdot seperti Lagak Jakarta karya Benny dan Mice.

L. PENGALAMAN KEHILANGAN SESUATU

Maret 2005, saya mengurus sertifikat hak milik rumah yang di duren sawit, yang saya beli dari lelang di Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Ketika semua persyaratan sudah dipenuhi, seorang pejabat BPN Jakarta Timur menanyakan putera saya, apakah saya mengurus dengan jalan tol atau jalan biasa. Atas pertanyaan saya dijelaskan, jalan tol artinya saya bayar 7,5 juta selesai 2 bulan, dan jalan biasa tidak usah bayar tetapi selesainya wallahualam, alias tidak jelas. Saya pilih jalan biasa.

Tiap bulan saya tanya selalu dijawab belum selesai. 6 bulan kemudian saya marah-marah, berkas diperiksa, ternyata ada yang hilang. Isteri saya marah-marah ke saya, dia bilang “kalau kau tiba-tiba mati, tanah ini jadi masalah, bayar saja”. Akhirnya saya beri 7,5 juta, hanya dua minggu kemudian sertifikat keluar.

Dari pengalaman ini, saya tidak menyuap tetapi member pelicin (terpaksa). Harus ada ketentuan mengenai hal ini. Birokrasi yang memperlambat suratpun dapat diberikan sanksi.

M. PENGARUH KELUARGA

Setiap saya hendak mengambil sebuah keputusan penting yang ada hubungannya dengan masa depan keluarga, saya mendengar pertimbangan isteri dan anak-anak. Pendapat dan pertimbangan mereka mempengaruhi keputusan saya terutama yang ada kaitannya kepada rumah tangga langsung atau tidak langsung. Anak saya yang tertua adalah seorang Pendeta gereja HKBP dan kandidat Ph.D yang menunggu promosinya di Vrije Universiteit di Amsterdam; anak kedua advokat di kantor pengacara MP & Associates; dan anak yang ketiga kerja di stasiun JakTV. Saya paling sering berkonsultasi dengan isteri, anak saya yang pertama karena dia selalu memiliki pertimbangan spiritual dalam mengambil keputusan, dan anak saya yang kedua memberi pertimbangan hukum dan politik. Semua anggota keluarga mendukung penuh keputusan saya untuk melamar menjadi Ketua KPK karena mereka menilai pekerjaan ini cocok dengan panggilan hidup dan karakter saya. Saya bertahan untuk tidak pernah bisa disuap dan menjadi pejuang HAM/rakyat kecil/buruh juga karena penguatan dari isteri dan anak-anak.

N. SKOR KEBERSIHAN DARI KORUPSI

Saya yakin bahwa sepanjang sepengetahuan hukum dan kesadaran saya bahwa saya benar-benar bersih dari korupsi atau suap. Saya berani menaruh skor 100 yang berarti sama dengan bersih 100%.

Jakarta, 28 Juli 2010

Muchtar Pakpahan



Tidak ada komentar:

Posting Komentar