Senin, 02 Agustus 2010

IN MEMORIUM MARIA PASARIBU (OPPUNG YANTI)

IN MEMORIUM MARIA PASARIBU

(OPPUNG YANTI)


Minggu 27 Juni 2010, jam 17.00 di rumah sakit Elizabeth Medan, ibunda (mertua) tercinta menghembuskan nafas yang terakhir dan pergi menuju Surga. Tahun 2003 oleh Rumah sakit Elisabeth Medan, RS Cikini Jakarta dan RS Advent Penang telah dinyatakan beliau menderita penyakit cirosis. Ternyata Tuhan masih menganugerahkan kasihNya memberi kesempatan hidup selama tujuh tahun.

Kepergian ibunda meninggalkan kesan yang mendalam di hati kami, sehingga wajar bila kami cukup lama dilanda rasa sedih. Apalagi saya memiliki pengalaman tersendiri. Waktu saya mendekam di penjara LP.Tanjung Gusta medan, beliau membesuk saya tiap hari dari jam 09.00 wib pagi hingga sore jam 16.00 wib. Dan ketika itu beliau juga berperan membawa pesan perjuangan dari dalam LP ke luar dan sebaliknya dari luar ke dalam. Selanjutnya, kalau ada kesulitan yang sedang saya hadapi, saya akan menemui beliau minta didoakan, dan doanya ampuh. Serta beliau akan mengontak menguatkan manakala saya sedang merencanakan sesuatu atau terbeban dengan suatu masalah.

Minggu 27 Juni jam 14.00 wib, anak saya Pdt.Binsar Pakpahan memimpin kebaktian dengan membacakan 2 Tim 4: 7. Lalu Binsar bilang, “oppung sudah waktunya oppung pergi, anak-anakmu yang meneruskan cita-citamu, kami sudah ikhlas, kaupun ikhlaslah temui Tuhan di Surga. Pergilah kau ya oppung. Ibunda menjawab, “ya”. “Kupeganglah kepalamu ya oppung?”, dan dijawab “ya”. Lalu Binsar mengusap kepalanya beberapa kali sambil bilang “borhat ma ho oppung” (berangkatlah oppung).

Sesudah kebaktian, terjadilah proses kepergiannya yang disertai nyanyian rohani dan ungkapan penyerahan “ya Yesus, di tanganmu jiwa dan ragaku”, hingga mulut tidak lagi bicara lagi, bibirnyapun tertutup rapat.

Untuk maksud menopang ibunda tercinta, tanggal 28 Mei 2010, saya menciptakan lagu INANG NA BASA NA LAGU. Kemudian sebagai ekpresi seluruh rasa sekaligus pengganti ratapan, saya ciptakan lagu BORHAT MA HO INONG, yang dinyanyikan semua kami keturunannya ketika memberangkatkannya.

Nama lengkap Maria Pasaribu (Oppu Yanti) lahir di Batu Nabolon Kecamatan Garoga Kab. Taput, 25 Agustus 1926. Orangtua, Op. Maralaut Pasaribu dan boru Siregar Ritonga. Suami: Nicolaus Marpaung, meninggal 1982. Anak-anak : 1. Rosintan Marpaung/Muchtar Pakpahan, memiliki tiga anak yaitu Binsar, Darta dan Ruth; 2. Nurliana Marpaung/Vuko Bakara, memiliki tiga anak yaitu Ido, Igor dan Gorby; 3. Swito Marpaung/br.Pasaribu memiliki 4 anak yaitu Yanti, Suhardi, Deddy dan David; 4. Farida Marpaung/Purba, memiliki 4 anak yaitu Eka, Elisabeth, Harapan dan Dame; 5. Diapari Marpaung/br.Togatorop, memiliki 2 anak yaitu Ruben dan Sulla 6. Gindo Marpaung/br.Hutasoit, memiliki 2 anak yaitu Ary dan Hanna; 7. Puspa Melati Marpaung/Barita Oppusunggu, memiliki 3 anak yaitu Evan, Klemen dan Henok; Cucu yang sudah menikah Yanti, Deddy dan Darta. Jumlah keturunan 40 orang, 7 anak (7 menantu), 24 cucu, dan 2 cicit.

Sesuai dengan adat Batak, keberangkatannya disebut pesta saormatua, dengan potong kerbau. Beliau disemayamakan di gereja, sebagai jemaat yang baik. Pada saat kebaktian pemberangkatan di HKBP Persatuan, Binsar memanjatkan isi hati kami dengan judul berikut ini.


Doa dari sorga

Bapa yang teramat baik, terima kasih atas semua yang telah Engkau berikan kepadaku; penyertaan yang Engkau tunjukkan kepadaku dan keturunanku. Engkau memberi jawaban atas seluruh pergumulanku seturut kehendakMu demi kemuliaanMu,

Engkau telah memberi suami yang sangat bijak, lembut hati dan penuh sayang, serta 8 anak yang terberkati. RancanganMu tak terselami. Engkau meluluskan anak tertuaku dari IKIP JOGJA, memberinya pekerjaan sebagai dosen di Fakultas Pendidikan selama kurang lebih 5 tahun. Bagiku itu pemberian Tuhan agar dia dapat membantu menyekolahkan ketujuh adiknya. Namun Engkau mengambilnya melalui penyakit jantung. Cepat sekali Engkau memanggilnya kembali kesisiMu. Sakit sekali Tuhan, namun hanya doa dan syukur yang bisa kupanjatkan kepadaMu Tuhan Yesus. Ujian berat kujalani dengan gigih bersama suami dan ketujuh anakku. Ujian kehilangan anak pertama berlanjut dengan berpulangnya suamiku 4 tahun kemudian, tepat ketika 4 orang anakku masih di bangku kuliah. Sakit sekali Tuhan, namun aku tetap bersyukur dan semakin memasrahkan seluruh hidupku kepadaMu, Bapaku di sorga. Tuhan Yesus tidak pernah mempermalukan aku. Permintaanku waktu itu adalah “Sanggupkan aku untuk menyekolahkan anak-anakku ya Tuhan.”Yesus, Engkau sangat baik bagiku, sedetikpun tak pernah Engkau tinggalkan aku. Dengan perjuangan yang sangat berat dan melelahkan, oleh kemurahanMu, Engkau luluskan keempat anakku itu hingga mereka memiliki keluarga yang baik. Terimakasih, terimakasih Tuhan. Puji Tuhan.Seperti yang biasa aku lakukan tiap pagi, sekarang juga aku memanjatkan doa syafaat memujiMu dan mendoakan semua anak, cucu, cicitku dengan nama. Oleh kemurahan dan cinta Yesus yang kuterima, Engkau perkenankan aku menolong, menasihati, dan memberi tumpangan bagi orang lain. Di akhir hidupku, mataku tidak dapat lagi membaca firman Tuhan, tak dapat berjalan, tak dapat lagi memuji Tuhan, sakit sekali kurasakan. Aku bertanya, “Mengapa begini Tuhan?” Aku tak mengerti. Waktu itu aku memohon agar Tuhan menguatkan aku untuk menyatakan kemuliaanMu, karena tenagaku sudah hampir habis. uasaMu tak terukur, rancanganMu tak terselami. Pada hari Kamis 24 Juni, Roh KudusMu menguatkan aku menyatakan isi hatiku kepada Bapaku, dengan mengangkat 2 bait Buku Ende No. 525 “Na Laho Ma Au Tu Na Sonang di Ginjang” Engkau dengar kan Tuhan? Di situ aku juga mendoakan semua anak, cucu, dan cicitku, menyebutkan nama mereka satu persatu. Ajaib benar kuasaMu Tuhan Yesus. Sungguh baik Engkau. Engkau menolong aku memuliakan Engkau. Di hari terakhir, Minggu 27 Juni 2010, Engkau masih memberikan aku kesempatan untuk memuliakan namaMu dalam kebaktian Minggu yang dipimpin oleh cucuku. FirmanMu pada hari itu 2 Tim 4:7, “Selesai sudah pertandinganku,” mengatakan bahwa sampai akhirnya, aku masih mempertahankan imanku. Beberapa jam setelah kebaktian, jam 17.00 WIB aku kembali ke hadapanMu. Sekarang Tuhan, aku mengucap syukur karena aku sudah senang bersamaMu. Aku tidak lagi merasakan sakit, yang ada hanya kebahagiaan abadi bersamaMu. Inilah upah mengikut Engkau. Aku tersenyum dan melihat orang-orang yang aku tinggalkan dan aku yakin Engkau akan terus menjaga mereka. Terima kasih Tuhan, memang Engkau adalah penguasa kehidupan. Jagalah juga kehidupan anak cucu, cicitku seperti Engkau telah menjaga aku. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kumenyatakan kemuliaanMu. Amin.


Maria br. Pasaribu/Oppu Yanti

Ditulis oleh : Binsar Pakpahan (cucu)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar