Rabu, 18 Agustus 2010

SAYA SEDIH SAAT 65 TAHUN INDONESIA MERDEKA

Ketika Indonesia merayakan HUT ke-65 pada 17 Agustus 2010, hati saya Muchtar Pakpahan sangat sedih dan malu sebagai bangsa Indonesia. Mengapa?

1. Indonesia semakin jauh dari cita-cita Welfarestate
Lihatlah angka buta huruf dan angka putus sekolah SD dan SMP masih begitu tinggi. Berarti Pasal 31 UUD 1945 hanya sebuah angan-angan. Lihatlah betapa mudahnya bagi sebuah ormas merusak rumah ibadah dan mengganggu yang beribadah. Mesjid Ahmadyah dirusak dengan alasan sesat, jangan-jangan yang merusak itu yang sesat di mata Tuhan. Jemaat HKBP sedang beribadah dianiaya mereka, disorot televisi dan dikawal polisi. Sekurang-kurangnya ada pembiaran dari Polisi. Berarti Pasal 29 dan Pasal 28H hanyalah sebuah pajangan. Lihatlah betapa banyaknya di semua perempatan dan kolong jembatan pengemis dan gelandangan. Padahal Soekarno dulu bilang, maka ada pasal 34 UUD untuk memelihara anak fakir miskin. Ternyata Pasal 34 UUD 1945 hanyalah cita-cita proklamator, tidak menjadi beban bagi pemerintah. Lihat saja ada yang beranggapan SBY sangat sukses jadi presiden maka diusulkan hingga boleh 3 periode. Lihatlah betapa sulitnya orang miskin berobat di rumah sakit Negara walaupun dana APBN sudah tinggi untuk berobat gratis bagi yang miskin. Yang memilukan hati, angka kemiskinan di Papua, Dayak dan Jambi tidak menurun. Berapa banyak lagi orang Papua yang hartanya hanyalah koteka. Kadang-kadang saya dapat memahami tuntutan rakyat Papua berpisah dari Indonesia, sama pahamnya ketika saudara seasal Kol. Simbolon memimpin PRRI mau merdeka.
2. Buruh masih menderita
65 tahun merdeka, lihatlah betapa kehidupan buruh yang hanya menerima UMR serba kekurangan. UMR hanya Rp. 1.200.000/bulan. Lihatlah DPR yang gajinya 80.000.000/bulan tetap kekurangan. Dan Mereka merasa sudah memperjuangkan nasib buruh. Apalagi yang menganggur baik karena PHK atau pertambahan angkatan kerja, pastilah lebih menderita dibandingkan buruh yang menerima UMR. Tentulah sebagai aktivis yang berjuang bagi buruh selama 32 tahun, sangat sedih menyaksikan kondisi kehidupan buruh saat ini.
3. Indonesia dilecehkan Malaysia
Yang paling membuat saya sedih dan malu sebagai bangsa, petugas resmi Republik Indonesia yang menangkap penjahat, ditangkap oleh polisi Malaysia, pada saat HUT yang ke 65. Pelecehen seperti ini sudah beberapa kali dilakukan oleh Malaysia. Tahun 2005, polisi yang memeriksa pencuri ikan di tengah laut, dianiaya Angkatan Laut Malaysia. Untuk kejadian yang dua kali itu, pemerintah Indonesia memperlihatkan jiwa yang inferiority terhadap Malaysia. Saya benar-benar malu!!!!. Inilah saatnya Indonesia dalam keadaan state-governmenless atau state-ungovernmental.

Kalau saya ditanya bagaimana jalan keluar? Pertanyaan lanjutan apakah ada gunanya menyatakan itu kepada presiden SBY? Kelihatannya tidak berguna, soalnya beliau Jenderal bintang empat dan memiliki gelar akademis Doktor di bidang ekonomi pertanian. Sebaiknya rakyat Indonesia berdoalah agar Tuhan yang menyampaikannya kepada Presiden pilihan rakyat itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar