Rabu, 15 September 2010

MEMBANGUN RUMAH IBADAH HARUS IKUTI ATURAN

“REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Ketua DPR Marzuki Alie mengatakan, bangsa ini sangat beragam baik dari segi suku, agama dan ras sehingga perlu ada sikap saling menghargai kebhinekaan tersebut dengan cara mengikuti aturan yang ada. "Tanpa mengikuti aturan, semua pihak bisa bertindak sesukanya, maka yang muncul adalah kekacauan," kata Marzuki di Jakarta, Rabu.
Ia mengatakan, semua pihak menghargai HAM dan kebhinekaan tapi juga harus mengikuti aturan. "Jika mau membangun rumah ibadah harus ikuti aturan. Aturan tersebut hendaknya dilaksanakan, karena jika tidak maka akan muncul masalah yang akan menimbulkan kekacauaan," katanya. "Makanya untuk kasus di Bekasi itu ada saran dari kepolisian untuk segera mengajukan izin mencari lokasi tempat ibadah yang tetap supaya tidak ada politisasi," ujar Marzuki menambahkan.
Menurut Marzuki, pembangunan rumah ibadah seharusnya dilihat dari segi kebutuhan. Jangan sampai di tengah lingkungan yang mayoritas penduduknya muslim dibangun sebuah gereja. Begitu juga sebaliknya, jangan sampai dibangun sebuah masjid yang sangat besar di tengah penduduk atau wilayah yang dihuni mayoritas non muslim.
"Saya mengharapkan agar kepolisian bisa bertindak dan menyelesaikan dengan seterang-terangnya dan menindak seluruh pelaku yang terkait, baik yang kriminal maupun yang memprovokasi masyarakat. Motifnya harus digali benar. Ini seperti halnya juga dengan SKB tiga menteri diperlukan agar jangan sampai muncul isu," katanya”.



KOMENTAR SAYA :

Membaca komentar saudara Marzuki Ali yang ketua DPR RI, pernyataan itu sangat saya sayangkan. Saudara Marzuki Ali harus baca ulang NKRI lahir dari pluralisme, cita – cita kebangsaan dan diikat Pancasila, lalu pluralisme itu dijamin oleh pasal 29 UUD 1945 ditambah pasal 28E (setelah diamandemen). Sekali lagi, ucapan saudara Marzuki Ali ini sangat membayakan NKRI. Kalau ini bahagian dari sikap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, bila dikaitkan dengan somasi saya, pernyataan ini semakin menguatkan somasi pasal 1 (2), pasal 29 (2) ditambah pasal 28E (1) UUD 1945.
Bila dikatakan kalau pembangunan rumah ibadah di lokasi yang mayoritas tidak boleh dibangun rumah ibadah yang lain saya pastikan NKRI akan pecah, apabila dari Tapanuli Utara, Bali, NTT, Sulawesi Utara, Papua, Maluku, Manado diusir Masjid dan di seluruh Jawa diusir Gereja.
Saudara Marzuki, tolong dicek di daerah Tapanuli (Tapanuli Utara, Humbanghasudutan, Toba dan Samosir) mesjid berdiri di tengah – tengah daerah yang hampir 100% Kristen, dengan tidak berizin. Kalau pernyataan saudara Marzuki tidak dicabut, NKRI diambang pintu perpecahan atau sebenarnya saudara Marzuki Ali menghendaki NKRI pecah?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar