Selasa, 12 Oktober 2010

SOEKARNO MENCITACITAKAN WELFARESTATE BELANDA

Sejak sabtu 9 oktober 2010, saya bersama isteri Rosintan Marpaung sedang berada di Belanda mengunjungi putra pertama kami Pdt.Binsar Pakpahan sekaligus berlibur. Di Belanda kami sudah mengunjungi beberapa kota besar besar dan kecil serta tua dan baru. Kota yang sudah kami kunjungi, Amsterdam, Amstelven, Arnhem, Nijmegen, Scheveningen, dan Deen Haag. Semua kota itu itu rapi, teratur, tertib, bersih, nyaman, aman dan semua sungai dan got airnya jernih direnangi burungburung yang ceria.
Bagaimana manusianya? semua orang tinggal di rumah hunian minimal type 75 m, dan rumah2 satu straat terlihat rapih dan seragam. satu straat bisa type 75, bisa type 100 dan 120, dan bisa type mewah. Semua orang punya pekerjaan dengan upah minimum 1000 Euro, Rp.12jt, dandiberi tunjangan pengangguran bila menganggur. Semua wajib sekolah, semua gratis, tidak ada uang pendaftaran, tidak ada uang buku, tidak ada uang ujian,tidak ada pungutan apapun. Kebe3basan memeluk agama dan beribadah menurut agamanya dijamin, dan tidak ada ketegangan antara umat beragama.
Soekarno ketika disidangkan tahun 1937 menegaskan, kalau beliau berhasil memerdekakan Indonesia, dia akan mewujudkan welfarestate atas dasar demokrasi sosial seperti negara tuan (maksudnya Belanda). Sekarang setelah 65 tahun merdeka, pandanglah sejenak Indonesia, semakin jauh dari welfarestate. Yang kaya semakin kaya, yang miskin tetap dalam kemiskinannya, karena negara sepertinya tanpa pemereintah buat rakyat miskin. Pemerintah baru tanggap kalau mengururs kepentingan orang kaya.
Mau seperti sejahteranya Belanda? cari pemimpin yang seperti Kim Dae Yung, Nelson Mandela, Lulla dan Lech Walesa. Sekiranya saya yang memimnpin Indonesia, 5 tahun dapat saya wujudkan welfarestate itu. Sayang saya tidak mempunyai uang yang cukup untuk berkampanya dan untuk menjaga suara agar tidak dimanipulasi KPU di segala jajarannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar