Minggu, 17 Oktober 2010

WISATA DANAU TOBA & BONAPASOGIT DI BELANDA

Minggu 17 Oktober 2010, bertempat di kediaman drg Ong Hua (dokter dan sahabatnya Bung Karno) di Amstelven berlangsung rapat Bonapasagit, persiapan terahir pesta bonapasogit, orang-orang yang berasal dari sumatera utara. Pesta bonapasogit akan berlangsung sabtu 30 Oktober 2010, di Deen Haag, dan saat itu saya sudah kembali ke Indonesia.
Pada rapat itu saya diberi kesempatan bicara, lalu saya kemukakan. Tahun 1960-an dan 1970-an ada ungkapan di Belanda dan Jerman "janganlah mati sebelum i njak danau toba (niet kunt starvan vor dat yehit toba meer hebt hezin). Lalu saya minta kesediaan ini membuat program mengkampanyekan wisata danau toba di Belanda dan Jerman, seperti apa yang saya rindukan melalui lagu ciptaan saya : Toba Indah, Samosir Indah dan Siantarman.
Mereka/pengurus menyatakan bersedia, tetapi apa program wisata yang hendak kami tawarkan? Sidang pembaca, saya mengajak kita untuk mendorong Pemprov Sumut melakukan kordinasi dengan pemkab/pemkot yang terkait dengan wisata Danau Toba (Medan, Siantar, Tanah Karo, Dairi, Fakfak, Tobasa, Taput, Humhas, Simalungun dan Samosir). Danau Toba adalah sumber kehidupan rakyat Danau Toba dan sumber devisa sumatera utara asalkan diprogramkan dan dikelola dengan terencana dengan manajemen wisata yang baik. Pemerintah, aktivis, pelaku/pengusaha wisata danau toba, mari kita kampanyekan JANGANLAH MATI SEBELUM INJAK DANAU TOBA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar