Rabu, 29 Desember 2010

KLEIDOSKOP PENEGAKAN HUKUM 2010 DAN TIADA HARAPAN 2011

Walaupun kleidoskop yang ditayangkan berbagai stasiun televisi baru memasuki hari kelima, tetapi dari catatan yang mereka tayangkan hampir tidak ada yang optimis penegakan hukum dan pemberantasan korupsi akan berjalan baik di 2011. Mengapa? Tiga petinggi hukum/pemberantasan korupsi yakni Ketua KPK, Jaksa Agung dan Kapolri baru saja dilantik menjelang ahir 2010. Catatan kaki lalu menimbulkan perpektif ke depannya dari ketiga petinggi itu adalah sebagai berikut.
Timur Pradopo adalah jenderal polisi yang tidak berkesan bersih, apalagi ketika memulai mau menjabat ada semacam janji atau statement akan menggalang FPI untuk membangun keamanan. Dengan pernyataan itu menimbulkan kesan, peringatan keras bagi aktivis HAM dan prodem.
Jaksa Agung Basrief Arief, stok lama dari internal kejaksaan, yang juga tidak terkesan bersih dan tidak terkesan reformis. Basri Arief tergolong berkarya biasa-biasa saja, tidak ada geregetan. Kalau diabuat contoh idola misalnya Baharuddin Lopa almarhum.
Busro Muqodas, bersaing terahir dengan Bambang Wijoyanto sebagai ketua KPK, dan awalnya sudah dipublikasikan calonnya Cikeas bersama Jimly Assidiqqie. Artinya Cikeas menyiapkan kalau tidak Jimly ya Busro. Berarti agak sulit diharapkan dari pribadinya, tetapi masih ada harapan karena ada dua tokoh Bibit dan Chandra yang saya yakin tidak rela KPK diobok-obok. Tinggallah KPK ada harapan.
Dapatkah KPK bekerja sendiri? Rakyat harus ikut mengawal. Dalam rangka itu, Kongres V KSBSI 24_27 April 2011 akan saya gerakkan menjadi motor gerakan sosial yang diluar rutin serikat buruh, ikut menggerakkan pemberantasan korupsi dan menggerakkan perjuangan keadilan sosial sebagaimana SBSI ketika lahir. Dan saya akan aktif berjuang di KSBSI untuk periode teraghir ini, sebelum pensiun jadi aktivis di usia 60 tahun. Doakan KSBSI, doakan saya. Pokok-pokok pikiran tentang KSBSI ke depan saya input secara tersendiri. silahkan baca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar