Kamis, 19 Januari 2012

PERBANDINGAN TATATERTIB KEHIDUPAN DI EROPA DAN INDONESIA

Oleh : Muchtar Pakpahan

Dosen Fak Hukum UKI/MPO KSBSI

Tanggal 17 Desember 2011 sampai tanggal 9 Januari 2012 saya mengujungi Eropa: Belanda, Belgia, Prancis dan Spanyol. Kunjungan saya sebenarnya dalam rangka menghadiri promosi Doktor Theology putra kami, Pdt. Binsar Pakpahan di Vrije Universiteit, Amsterdam, pada tanggal 20 Desember 2011. Adapun Disertasinya berjudul GOD REMEMBERS, dengan menjelaskan konflik HKBP dan kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia dengan membandingkan penyelesaian Afrika Selatan.

Selesai promosi kami menyempatkan melakukan perjalanan wisata ke Belanda dengan menjalani kota - kota di Amsterdam, Arnhem, Nijmegen, Rotterdam, Tilburg dan Schidam. Ke Belgia menjalani dua kota Brussel dan Anterwerp. Ke Prancis menjalani dua kota Lille dan Paris. Ke Spanyol hanya menjalani kota Barcelona.

Dari pengalaman perjalanan tersebut, saya ingin membagikan perbandingan tatatertib kehidupan di negara - negara tersebut (Eropa) dengan Indonesia yang mudah-mudahan ada manfaatnya. Hal-hal yang hendak saya perbandingkan adalah berikut ini:

1. Sampah

Selama perjalanan ke kota - kota di empat negara tersebut, saya menyaksikan kota-kota tersebut bersih dari sampah termasuk bersih dari tebaran daun - daun walaupun masih banyak pohon yang berdaun. Saya menyempatkan diri mengamati proses pembuangan sampah di kota Arnhem dimana putra saya Binsar Pakpahan bertempat tinggal.

Semua rumah memasukkan sampah ke dalam plastik, dan sampah diletakkan di box sampah paling lambat setiap jam 07.00 pagi tiap hari. Di jalan yang di depan rumahnya ada dua box sampah yang fondasi boxnya dibangun ke dalam tanah. Setiap jam 07.00 pagi, truk pengangkut sampah datang mengangkatnya disertai dengan mesin pembersih sampah. Selanjutnya sampah yang di box serta yang di luar box menjadi bersih.

2. Bangunan

Di semua kota yang saya singgahi, bangunan-bangunannya teratur dan rapi. Di suatu jalan atau kawasan, tipe bangunan dan luas tanahnya sama. Ada kawasan pemukiman, ada kawasan pertokoan dan hotel, ada kawasan pemukiman sekalian konservasi alam. Tata kotanya tertata rapi, jalan-jalannya lurus serta amat mudah menemukan alamat. Kota Barcelona walaupun berbukit-bukit, jalan-jalannya tertata rapi dan lurus-lurus. Sehingga ketika kita berada di puncak bukit yang terletak di kawasan bekas Olimpiade Barcelona, terlihat betapa menarik serta eksotiknya kota Barcelona.

3. Lalulintas

Sistem lalu - lintasnya ditata sedemikian rupa, Hak Azasi Manusia serta keselamatan pengguna jalan dibuat menjadi prioritas. Karena itu setiap jalan pasti ditata sarana pejalan kaki dan pengendara sepeda/sepeda motor, selanjutnya jalan yang dapat dilalui bus/mobil. Sehingga adalah biasa orang melakukan jalan kaki kalau tujuan yang ditempuh hanya dua kilometer. Kalau lebih dari dua kilometer ditempuh dengan speda atau trem atau bus. Sedikit orang pengguna mobil pribadi, walaupun mungkin 90% keluarga penduduk Belanda memiliki mobil pribadi. Lebih safe, lebih tenang, lebih irit dan lebih nyaman jalan kaki atau kenderaan umum dari pada mobil pribadi. Yang terpenting juga, semua pengguna lalulintas menggunakan jalan di sebelah kanan dengan tertib. Belanda pengguna jalan sebelah kanan tidak seperti Indonesia sebelah kiri.

4. Kesadaran Hukum

Hal yang paling menarik ingin saya kemukakan adalah mengenai kesadaran hukum masyarakat yang tinggi. Tingkah laku sehari - hari masyarakat yang memperlihatkan kesadaran hukum yang tinggi dapat dikemukakan sebagai berikut.

Di semua tempat yang tertulis “No Smoking” atau “Thanks for No Smoking”, pasti tidak ada yang merokok. Karenanya jarang saya temukan orang yang sedang merokok di seluruh Belanda. Saya tidak pernah melihat ada sampah atau ada plastik yang terbuang di pinggir jalan, apalagi tidak pernah ada orang yang buang sampah dari mobil. Di trem atau bus dituliskan dilarang makan, selanjutnya tidak ada orang yang makan di dalam trem atau bus. Bangunan rumah yang sudah dikeluarkan ijin tidak akan ada yang merenovasi jika tidak sesuai dengan ijin, misalnya menambah atau mengurangi atau merubah model bangunan.

Semua pengendara mobil menjalankan mobilnya sesuai dengan marka jalan, walaupun tidak ada polisi. Misalnya ditulis kecepatan max 60 km/jam, maka semua orang mematuhinya. Demikian juga kewajiban menggunakan seatbelt, semua penumpang mobil menggunakan seatbelt.

PERBANDINGAN

Saya sering berucap ke kerabat yang di Belanda ketika saya mau kembali ke Indonesia, setelah 23 hari di Eropa ini rasanya sepertinya saya sedang mengunjungi bayangan Sorga dan nanti saya akan kembali ke hutan rimba yaitu Indonesia yang merupakan kebalikan dari 4 butir mengenai Eropa yang saya sebutkan tadi. Begitu di Indonesia saya kembali ke kota yang sampahnya berserakan dimana-mana, bangunan rumah yang semrawut, sistem lalulintas yang semrawut, kesadaran hukum yang rendah, lawenforcement yang tidak jalan, kekerasan di berbagai provinsi yang pelakunya adalah Ormas, Polisi dan mengatasnamakan agama serta hidup penuh ketidakpastian. Apa yang saya tuliskan di atas, tentulah dengan maksud, ada kerinduan yang berlangsung di sana berlangsung juga di sini.

Syaratnya apa? Dibutuhkan seorang pemimpin yang kuat komitmennya mewujudkan 5 pilar negara yakni demokrasi, penegakan hukum, perlindungan HAM, keadilan sosial dan anti diskriminasi, seperti pemimpin Kim Dae Yung, Nelson Mandela, Lech Walessa dan Lulla da Silva.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar