Selasa, 01 Mei 2012

BURUH BERSATU PASTI MENANG


BURUH BERSATU PASTI MENANG
Oleh Muchtar Pakpahan, Dosen/ MPO KSBSI
Selasa 1 Mei 2012 dalam rangka May Day, bertempat di Gelora Bung Karno, KSPSI (Konfederasi Serikat pekerja Seluruh Indonesia), KSBSI (Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia), dan KSPI (Konfederasi Serikat pekerja Indonesia) bersama  OPSI, FSP TSK, FSBI, FFarkes, FSP Pewarta, FSP LEM dan GSPMII mendeklarasikan wadah bersama bernama MPBI (Majelis Pekerja?Buruh Indonesia) dalam sebuah Manifesto Buruh.  Pendeklarasian MPBI ini dihadiri sekitar 80.000 buruh. Adapun maksudnya adalah agar melalui MPBI melakukan kegiatan perjuangan bersama serta membuat MPBI menjadi payung perjuangan bersama. Seiring dengan itu saya sampaikan masukan seperti berikut ini.
  1. Gerakan  Buruh  sekaligus gerakan Sosial.
MPBI diharapkan sebagai gerakan buruh yang sekaligus gerakan sosial, yaitu melakukan  empat kegiatan di luar tugas serikat buruh secara tradisional. Pertama. MPBI berjuang mewujudkan negara welfarestate sebagaimana cita-cita sosial demokrat (sosdem) idiologi serikat buruh di dunia. Kedua. MPBI memelopori terwujudnya keadilan sosial, demokrasi, HAM, penegakan hukum  atau law-enforcement (anti korupsi) dan anti diskriminasi serta melawan penindasan. Ketiga. MPBI menggerakkan ekonomi kerakyatan melalui usaha-usaha bersama di kalangan lapisan menengah ke bawah dan 4. MPBI ikut berpolitik dengan cara  membangun/memiliki  partai politik sendiri atau bersimbiose-mutualistis dengan sebuah partai politik dalam mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan sosial.
  1. Serikat Buruh kuat, rakyat sejahtera.
Pendirian atau ungkapan “strong union be welfare or people welfare must be strong union” atau seriikat buruh kuat rakyat sejahtera atau rakyat sejahtera pasti serikat buruh kuat.  SB/SP yang kuat adalah syarat mewujudkan kesejahteraan rakyat (secara khusus buruh yang diwakilinya). Kalau menjadi cita-cita adalah terwujudnya welfarestate un tuk mensejahterakan rakyat, maka mutlak syaratnya adalah tercapainya SB/SP yang kuat. Yang dimaksud dengan kuat adalah mempunyai anggota yang banyak dan mempunyai faham perjuangan bersama, mempunyai dana yang banyak yang berasal dari iuran, dan mempunyai kepemimpinan yang kuat serta terpercaya. Hal ini menjadi pendirian  gerakan buruh internasional.
  1. Serikat Buruh bersatu pasti menang.
Dewasa ini  lahir ratusan federasi buruh dan beberapa konfederasi, yang menjadi kenyataan dari  buah reformasi. Kebebasan berserikat adalah salah satu wujud terpenting  bagi buruh.  Kebebasan berserikat adalah syarat utama mensejahterakan b uruh. Namun bila SB/SP tercerai berai, tidak bersatu atau tidak ada persatuan, adalah menjadi seperti kemustahilan cita-cita buruh dapat tercapai. Dengan terbentuknya MPBI, wadah bersama untuk berjuang bersama sudah tersedia. Sekarang tinggal mewujudkan motto perjuangan “ buruh bersatu pasti menang”.  Ini jauh lebih bermakna daripada “buruh bersatu tak dapat dikalahkan” Selama May Day, sepanjang  jalan menuju istana dan di GBK, ungkapan buruh bersatu pasti menang menggema terus menerus. Terus terang member harapan, bahwa buruh akan menikmati kesejahteraan itu dalam waktu dekat.
  1. Nasib Buruh dan politik.
Semua nasib buruh ditentukan oleh kebijakan politik. Demikianpun perjuangan mensejahterakan buruh pasti ditentukan oleh kebijakan politik. Kita lihat  saja yang paling mendasar tentang kebebasan berserikat dan berekpressi masih ditentukan kebijakan politik, baik membuat undang-undang maupun melaksanakannya. Menyusul masalah phk, outsourcing, buruh kontrak, jaminan sosial, keberadaan tripartite, dan penghormatan terhadap PKB, ditentukan oleh kebijakan politik.  Mau tidak  mau salah satu tugas utama MPBI adalah mencampuri urusan politik kenegaraan atau ikut menentukan arah kebijakan politik. MPBI wajib   seperti hampir di semua negara eropa, Australia, Selandia baru, Brazilia, Afrika Selatan dll.
  1. Welfarestate dan Hubungan Industrial ideal sebagai tujuan perjuangan MPBI
Alinea IV pembukaan UUD 1945 yang digagasi the founding fathers dan proklamator menggariskan:”….dibentuklah pemerintahan negara yang melindungi segenap tumpah darah, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum dan ikut serta menciptakan perdamaian dunia,,,” . Kalimat itu adalah cita-cita NKRI, dan butir melindungi, mencerdaskan dan memajukan kesejahteraan umum  adalah  faham welfarestate. Maka tujuan perjuangan MPBI  menurut saya adalah mewujudkan welfarestate. Dengan welfarestate kita bangun lima pilar negara : demokrasi, hukum, HAM, keadilan sosial dan anti diskriminasi. Dengan welfarestate kita budayakan hidup di atas tujuh pilar kebangsaan : Pancasila, UUD 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal  Ika,  Bendera merah putih, Bahasa Indonesia, dan lagu Indonesia Raya. Dengan welfarestate kita buat negara merealisasikan tujuh kesejahteraan dasar rakyat:  negara mewajibkan rakyatnya terdidik hingga SLA dan membiayainya (sekarang hingga SLP), negara wajib menciptakan lapanmgan kerja dgn konsekwensi gaji pengangguran bagi penganggur, negara menyelenggarakan jaminan kkesehatan bagi seluruh rakyat seumur hidup, negara menyelenggarakan jaminan pensiun bagi seluruh rakyat, negara menyediakan rumah bagi seluruh rakyat, negara memelihara faikir miskin, cacad dan disablepeople, dan negara benar-benar menjamin kebebasan beragama/berkeyakinan.  Ini adalah cita-cita gerakan Buruh  dunia, dan tentu menjadi cita-cita perjuangan saya yang mengadopsi gerakan  Buruh di Brasilia< Australia, Selandia Baru, Polandia, Inggris dll,   
Dalam negara welfarestate, dibangun pula hubungan industrial yang ideal. Penulis akan memulai dengan sebuah pernyataan,  hubungan industrial  yang ideal adalah hubungan industrial yang sistemnya dibangun dengan prinsip harmonis, dinamis, demokratis, berkeadilan dan berkesejahteraan. Membahas judul ini saya akan mulai dengan , Maret 2000, KADIN/APINDO bersama KSBSI dan KSPSI menyelenggarakan Konferensi Bipartit Nasional di Hotel Grand Melia dan Gedung Apindo[1] yang diikuti ± 400 orang mewakili organisasi pengusaha dan federasi-federasi serikat buruh/pekerja. Hubungan industrial yang ideal yang saya maksudkan adalah hasil  kesepakatan Konferensi Bipartit Nasional tersebut yang  merujuk  Sistem Hubungan Industrial Jepang  sebag acuan.
Mengapa Jepang dibuat menjadi rujukan? Dengan sistem hubungan industrial yang diterapkan di Jepang, kenyataan pertama, ekonomi Jepang paling kuat, pengusaha Jepang beruntuing dan buruh Jepang kategori paling makmur di dunia. Kenyataan kedua, di Jepang tidak pernah ada mogok/demonstrasi ataupun lock out di tingkat perusahaan yang diakibatkan perselisihan industrial tingkat perusahaan. Kenyataan ketiga, buruh-buruh Jepang menjadi pekerja keras. cerdas dan jujur. Penulis berkeyakin bahwa kemajuan perekonomian Jepang adalah karena fondasi hubungan industrialnya yang benar.
  1. Harapan terhadap MPBI
Tiga konfederasi KSPSI, KSBSI, dan KSPI  beserta 8 federasi telah mengukir sejarah dengan manifesto buruh lahirnya MPBI. Untuk bermaksud urun rembug, tugas  MPBI adalah melakukan program/kegiatan yang di luar kegiatan internal Serikat buruh (PKB, Upah, phk, pelatihan, jamsostek) tetapi perjuangan kebersamaan  yang memperkuat perjuangan SB/SP dari bidang kebijakan politik/kebijakan publik . Yang terpenting  melawan union busting, membackup konsolidasi SB/SP, mengkordinasi perjuangan yang disepakati bersama , salah satu kebersamaan politik. Ini sangat penting sebab  pada pemilihan  umum tahun 2014 apakah SB/SP penonton atau penentu, atau lima tahun lagi  masih jadi pecundang atau jadi pemenang. Mau jadi pemenang ada dua pilihan kita di bidang politik:
  1. Mencapai 100% cita-cita politik welfarestate dan hubungan industrial yang ideal.
 Membangun/memiliki satu partai politik. Bila bersatu sangat tinggi kemungkinan menang dalam pemilu, lalu buruh kuasai parlemen, dan sangat mungkin buruh menangkan presiden. Bila itu terjadi,  semua welfarestate yang digariskan UUD 1945 dapat kita realisasikan, demikian juga Hubungan Industrial yang ideal dapat kita perjuangkan. Bayangkan Presidennya dari Buruh, menteri-menteri ditentukan oleh buruh. Model TUC Inggris, ACTU Australia, CUT Brazilia, NTUC  Slandia Baru, Solidarnosch Polandia, DGB Jerman dll. Sepertinya saya mendorong MPBI belajar dari NTUC Selandia Baru, ACTU Australia, DGB Jerman, Solidarnosch Polandia, CUT Brazilia dan Negara-negara Skandinavia.
  1. Simbiose-mutualistis
Untuk menghadapi pemilu 2014 buruh menyeleksi satu dari  antara 9 Parpol yang mempunyai fraksi di DPRRI yang bersedia tandatangani kontrak politik yang menurut saya isinya: 1. Outsourcing & kontrak dihapus atas permanent job, dihapus phk, distop union busting, dan ada komitmen memperkuat serikat buruh. 2. Menyerahkan jabatan menteri yang mengurusi welfarestate kepada MPBI yakni : tenaga kerja, Sosial, Perumahan, Kesehatan, dan pendidikan. 3. MPBI berperan menyiapkan calon wakil buruh yang  duduk di parlemen  dan DPRD di setiap daerah.
Tetapi kalau saya ditanya, dari pengalaman  dan pergumulan sebagai pelaku advokasi buruh sejak tahun 1978, Ketua Umum KSBSI 1992-2003, sebagai anggota Govening Body ILO 1999-2005, wakil presiden WCL (World Confederation of Labour) 2001-2005, maka pilihan saya adalah  model NTUC Selandia Baru atau model ACTU Australia, atau CUT Brazilia atau TUC Inggris. MPBI mendirikan sebuah partai politik yang beridiologi sosial demokrat, dan masuk menjadi anggota SI (Sosialis Internasional) atau persatuan partai-partai buruh sedunia. Karena secara teknis sulit memulai mendirikan, saran saya  misalnya mengambil alih kepemimpinan partai buruh.
   Penulis Dr. Muchtar Pakpahan,SH,MA  hp 08129096861 faks 42802592                                                        


[1]) Gedung KADIN dan Hotel Grand Melia berdekatan tetapi bersebelahan di jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar