Kamis, 26 Juli 2012

Baca di Koran Harian Sore Sinar Harapan, Kamis 26 Juli 2012


FENOMENA KEUNGGULAN JOKOWI-AHOK DAN KEKALAHAN FOKE-NARA

Oleh Muchtar Pakpahan, Dosen FH-UKI

Rabu tanggal 11 Juli 2012, pilkada DKI telah berlangsung dengan tertib dan damai, walaupun ada protes dari lima kandidat sebelum pilkada berlangsung tentang DPT (Daftar Pemilih Tetap). Tanggal 20 Juli hasil pilkada tersebut telah diumumkan dengan perolehan suara Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Fauzi-Nara) 34,05 %, Hidayat Nurwahid-Didik J. Rachbini 11,72 %, Joko Widodo-Basuki Tjahja purnama (Jokowi-Ahok)42,60 %, Faisal Basri-Biem T Benyamin 4,98%, Alex Nurdin-Nono Sampono 4,67 %, Hendardji Supandji 1,98%. Karena hasil pilkada belum ada yang memperoleh lebih dari 50 %, maka akan  dilakukan putaran kedua untuk menentukan satu pemenang dari pasangan yang memperoleh suara urut satu Jokowi-Ahok dengan pasangan yang memperoleh suara urut dua Foke-Nara.

Setelah keunggulan yang dialami oleh pasangan Jokowi-Ahok pada tanggal 11 Juli 2012, saya melakukan survey terhadap masyarakat golongan menengah ke bawah dalam bentuk mendengar diskusi formal dan informal serta bertanya secara acak dengan siapa saja saya  bertemu yang bekerja sebagai buruh, pedagang pasar dan kakilima, PNS, supir dan pengusaha warteg. Dari survey yang saya lakukan, saya simpulkan ke dalam tiga kategori mengapa orang memilih pasangan Jokowi-Ahok dan mengapa tidak memilih pasangan Foke-Nara.

1. Hal-hal sebagai pendorong
Saya mulai dari hal-hal pendorong mengapa memilih Jokowi-Ahok.
Masyarakat Solo dan sekitarnya yang berdiam di Jakarta berceritera kepada setiap orang yang mereka temui, umumnya mengisahkan kebijakan Joko Widodo-Hadi Ridyatmo (walikota/wakil walikota Solo) yang sangat pro rakyat kecil. Bahkan pernah suatu saat atasannya dia lawan demi membela rakyatnya. Selain itu hasil kerja secara umum, Kota Solo menjadi kota bersih, indah dan tertib bahkan masuk dalam kategori walikota terbaik di dunia. Pastilah kebijakannya yang membuat pilkada pertama memperoleh 37 % meningkat ke  pilkada kedua menjadi 87 %.
Selain itu masyarakat Belitung sekitarnya dan Bangka Belitung pada umumnya juga berceritera betapa rakyat Belitung Timur merasakan sentuhan kebijakan Basuki Tjahja Purnama-Khairul Efendi sebagai Bupati dan wakil Bupati Belitung Timur. Rakyat lapisan bawah sangat tertolong dengan berbagai kebijakan ekonomi kesejahteraan yang ditempuh Basuki-Khairul.
Sekarang saya mengungkapkan apa kata masyarakat Jakarta  tentang Fauzi Bowo. Waktu pilkada 2007, rakyat memilih Fauzi Bowo-Prijanto, dengan thema janji: serahkan Jakarta ke ahlinya. Fauzi Bowo adalah ahli, beliau Doktor engineering dari Jerman, merangkak dari PNS jadi sekwildada DKI, lalu jadi Wakil Gubenur DKI, kemudian menjadi Gubernur DKI. Apa yang dirasakan masyarakat? Jakarta tetap kotor, semrawut dan banjir. Lalu mayarakat korban kebijakan Fauzi Bowo berceritera bahwa kebijakan Fauzi Bowo sebagai gubernur adalah pro neolib. Sebutlah tiga kasus yang besar: penggusuran pedagang Rawasari menjadi apartemen mewah, penggusuran rumah susun Pulomas menjadi apartemen mewah, dan kasus Mbah priok yang mengambil korban beberapa nyawa.

2. Sinyalemen dari dalam
Awal tahun ini saya berkunjung ke kantor walikota Solo. Saya mendapat kesan mulai dari wakil walikota hingga pegawai terendah bersikap memuji kebijakan-kebijakan pro rakyat dan anti korupsi  Joko Widodo sebagai walikota. Mereka ini berceritera juga kepada handaitaulannya yang PNS di Jakarta lalu membandingbandingkan.
Pada pihak lain, Prijanto wakil Gubernur DKI mengundurkan diri karena berbagai kebijakan Fauzi Bowo yang tidak pro rakyat dan tidak membuat birokrasi DKI bersih dari korupsi, malah Prijanto menuduh Fauzi Bowo melakukan penyelewengan. Hal ini ditulis oleh Prijanto dalam bukunya mengapa saya mundur. Banyak juga secara bisik-bisik PNS di DKI mengiyakan apa yang ditulis Prijanto dalam bukunya mengapa ia mengundurkan diri dari Wakil Gubernur yang tentu masuk ke akal sehat sebagian PNS DKI.

3. Partai Pendukung
Jokowi-Ahok didukung oleh PDIP dan Gerindra yang sedang diketahui masyarakat berperan sebagai partai opposisi dengan thema melawan korupsi, melawan kebohongan serta melawan politik pencitraan atau tebar pesona. Kemudian ditambah lagi, ketika tampil berkampanye dan dipublikasikan berbagai media, masyarakat melihat joko Widodo dan Basuki (Ahok) berpenampilan apa adanya serta merakyat. Dengan kata lain, jauh dari taktikpencitraan dan menimbulkan kesan merakyat dan berhasil mengambil simpati.
Fauzi Bowo-Nachrowi didukung oleh partai Demokrat, partai pemerintah yang dirundung cap partai korup karena  beberapa pemimpinnya terlibat  kasus korupsi, mau tidak mau partai ini terkesan partai korup. Selain itu Presiden SBY yang berasal dari Partai Demokrat, lebih sering membuat pencitraan menebar pesona daripada berbuat konkrit bagi kepentingan rakyat. Lalu rakyat berkeyakinan bahwa Foke-Nara adalah perpanjangan tangan SBY dan partai Demokrat. 

Tiga hal di atas adalah sangat kuat sebagai pendorong mengapa rakyat memilih Jokowi-Ahok, dan juga pendorong bagi pemilih Fauzi Bowo lima tahun yang lalu dan berpindah pilihan. Selain tiga hal di atas, ada ingatan rakyat disegarkan tentang kesamaan masalah Daftar Pemilih Tetap pemilu 2009 yang dimenangkan Demokrat dan DPT pilkada DKI yang mendorong protes dan membuat banyak orang merelakan diri menjadi pengawas agar tidak terjadi manipulasi perhitungan suara. Serta dari semua itu yang tidak kalah berperannya adalah peranan media yang mengungkapkan rakyat ingin yang baru atau rakyat ingin perubahan.

Pada kesempatan ini saya ingin berpesan kepada dua pasangan kandidat agar diprogramkan tentang dua hal. 1. Hal kebersihan. Perlu diprogramkan pembuatan kotak sampah setiap jarak tertentu misalnya setiap 200 meter, dan kotak itu terdiri dari organik dan anokganik. Sehingga dengan demikian ada tempat publik buang sampah, dan dapat dimanfaatkan. 2. Menghentikan banjir sekalian mengurangi kemacetan. BKT (Banjir Kanal Timur) yang berhenti di Cipinang, agar diteruskan menembus Tebet, Kebayoran, petukangan, kembangan dan Kapuk serta digali hingga bisa dilalui transportasi air Cilincinng hingga ke Kapuk dan sebaliknya. Jalur tersebut di kemudian hari akan dapat juga berfungsi sebagai jalur wisata juga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar