Selasa, 25 Juni 2013

PANCASILA SEBAGAI FONDASI DAN SALAH SATU PILAR NEGARA

“REVOLUSI ADALAH SOLUSI MEMBENTUK PEMERINTAHAN BERSIH DARI KORUPSI UNTUK MEWUJUDKAN WELFARESTATE”




Tulisan ini dimaksudkan sebagai penghormatan saya kepada almarhum M. Taufik Kiemas, yang telah mendahului kita pada Sabtu 8 Juni yang lalu. Almarhum berjuang mengingatkan semua pihak agar mengimplementasikan Pancasila dan pilar-pilar Negara lainnya dalam kehidupan nyata sehari-hari.
Pada tanggal 22 – 24 Februari 2013 yang lalu, SBSI (Serikat Buruh Sejahtera Indonesia) menyelenggarakan rapat kerja nasional (rakernas) di Asrama Haji Pondok Gede. DPP SBSI meminta beliau memberikan masukan tentang problematika 4 pilar Negara sekaligus membuka rakernas SBSI. Ketika DPP SBSI beraudiensi dan menyampaikan permintaan kesediaan menjadi keynote speaker pada pembukaan rakernas SBSI, dengan spontan beliau menyambut gembira dan malah menawarkan agar pembukaan rakernas diadakan di gedung MPR. Secara spontan tawaran itu diterima SBSI. Jadilah pembukaan rakernas SBSI berlangsung di gedung MPR pada Jumat 22 Februari dan M. Taufik Kiemas bertindak sebagai keynote speaker sekaligus membuka rakernas SBSI.
Kata “fondasi” dan “pilar” adalah dua kata yang secara teknis digunakan dalam teknik sipil atau bangun-bangunan, yang kemudian digunakan juga sebagai pengistilahan bangunan negara. Pancasila adalah Fundasi atau dasar atau filososfi negara yang menjadi landasan dari semua kehidupan berbangsa, bernegara, berpemerintahan dan bermasyarakat di bumi Indonesia. Sebagai fundasi, Pancasila memberi landasan terutama bagi pilar bangunan kenegaraan. Sedangkan pilar adalah yang menjadi landasan pijakan kerangka membentuk sebuah bangunan. Awal dari pengenalan sebuah bangunan adalah pilar, yang secara umum adalah berjumlah 4 pilar atau tiang. Dari pilar dibentuklah dinding, pilar pendukung, pintu, jendela dll, selanjutnya kelihatanlah bentuk bangunan.
Bangunan Negara Republik Indonesia didukung oleh 4 pilar utama yaitu Pancasila, UUD 1945 (saat ini UUD yang sudah diamandemen), NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Sebagai pilar utama, keempat pilar itu memberi landasan etika, moral dan hukum bagi bangunan bangsa Indonesia, yang ahir-ahir ini pula pilar Pancasila, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika dalam banyak hal sudah tidak dipergunakan lagi. Inilah yang mendorong almarhum Taufik Kiemas yang bekerja sekuat tenaga mengingatkan seluruh komponen bangsa, tentu terutama para penyelenggara Negara jangan mengabaikan 4 pilar Negara yang digali dan dicetuskan pendiri Negara Sukarno menjadi pilar kita bernegara. Artinya, semua peraturan UU, PP, Permen, Perda Provinsi, Pergub, Perda Kabupaten/Kota dan Perbup/Perwakot dll yang bersifat mengatur harus sesuai dengan pilar tersebut. Demikian juga semua kebijakan Presiden, para Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota serta semua penyelenggara negara lainnya harus sesuai dengan 4 pilar tersebut.
Bila penyelenggaraan Negara tidak sesuai dengan 4 pilar tersebut, sebagai konsekwensinya, negara Indonesia lambat laun akan ambruk atau akan tinggal nama menjadi pelajaran sejarah seperti Uni Sovyet Russia dan Yugoslavia. Bila hukum di semua tingkatan dan kebijakan penyelenggara Negara di semua tingkatan tidak sesuai dengan 4 pilar tersebut, cepat atau lambat akan membahayakan Negara. Sebagai contoh hal-hal yang merisaukan yang tidak sesuai dengan 4 pilar itu, hukum dan kebijakan yang membuat keadilan sosial semakin menjauh dari rakyat dan jaminan sosial yang tidak mendarat di bumi fakir miskin karena tidak sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Betapa sulitnya bagi agama tertentu di daerah tetentu untuk menjalankan ibadahnya, yang bertentangan dengan Bhinneka Tunggal Ika. Masih berlangsung adanya suara kuat tuntutan merdeka di Tanah Papua karena pesawat kesejahteraan tidak pernah mendarat di bandara rakyat Tanah Papua. Serta dengan alasan yang sama, mulai ada tuntutan merdeka di Kalimantan dan Sumatera. Kenyataan timbulnya kasus-kasus itulah yang merisaukan hati Taufik Kiemas, mendorong beliau menggagasi 4 pilar Negara.
Memang bila memandang bangunan Negara Indonesia secara utuh, sependapat dengan Amin Rais masih ada 3 pilar lagi yaitu Naskah proklamasi, Bahasa Indonesia dan Bendera Merah Putih. Teks atau Naskah Proklamasi menjadi pilar berlakunya berbagai hukum peninggalan Belanda seperti KUHP dan HIR (hukum acara perdata) KUHPerdata dll, Bahasa Indonesia menjadi sarana resmi kita berkomunikasi  di antara puluhan bahasa yang terdapat di bumi Indonesia. Bendera merah putih sebagai simbol Negara dan bangsa Indonesia. Jadi sebagai Negara Indonesia yang seutuhnya, ada 7 pilar, namun dibentuk oleh 4 pilar utama. Secara khusus, Pancasila sebagai fundasi, tetapi sekaligus merangkap menjadi pilar.
Dapat dikatakan, sudara Taufik Kiemas sebagai Ketua MPR telah merampungkan rumusan 4 pilar tersebut, tetapi belum rampung mendaratkannya agar menjadi pola hidup bangsa Indonesia. Karena itu, demi kontinuitas pemikiran 4 pilar tersebut, sebaiknya pengganti beliau adalah dari PDIP tetapi yang mempunyai komitmen meneruskan penerbangan 4 pilar Negara hingga mendarat di airport tujuan alinea 4 pembukaan UUD yang dibahasakan rakyat adil dan makmur.
Selamat jalan saudaraku Taufik Kiemas bapak 4 pilar Negara, terima kasih atas jasamu. Rakyat bangsa Indonesia berkabung atas kepergianmu, semoga Indonesia mendapatkan penggantimu yang minimal sepadan.
Muchtar Pakpahan, kandidat Guru Besar HTN-UKI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar